Archive for December, 2006
SELAMAT NATAL …!

Terkadang saya merindukan masa masa lalu di mana kita menerima kartu ucapan hari raya dari kerabat dan relasi di rumah kita. Terasa sangat personal dan penuh kehangatan. Dan atas nama teknologi, masa masa itu telah digantikan lewat media sms. Tulisan dan tanda tangan telah tergantikan huruf standar dari sistem telepon seluler kita. Dan walaupun anda telah digiring ke alamat web ini via sms juga, semoga personalitas saya dapat terasa lewat media ini.
Untuk semua sahabat, relasi, dan kerabat yang merayakan Natal. Selamat hari Natal, semoga damai dan kasihNya memberikan kelahiran baru bagi hidup kita. Damai di bumi. Damai di hati.
Salam Damai

DEMOKRASI DIGITAL WEB 2.0

Sekali-kali narsis gak apa kan? He he… Logo logo di atas itu merupakan parodi dari para peserta web di era Web 2.0. Ada yang kenal logo aslinya? Logo tersebut diturunkan dari logo Blogger, Feedburner, Bloglines, Technorati, Delicious, Flickr, Youtube, ShoutWire, Friendster, Myspace, Xanga, Skype, Wikipedia, dan MyBlogLog. Inilah salah satu bentuk “partisipasi” yang nyeleneh dan kurang kerjaan dari yang empu-nya web ini, judul yang betul seharusnya “Narsis 2.0″.
Oke, selamat datang di era baru penggunaan internet. Istilah Web 2.0 sendiri pertama kali dipopulerkan oleh O’Reilly Media pada tahun 2004. Web 2.0 bukanlah suatu sistem atau jenis program baru internet, tapi lebih pada sebuah era internet. Era dimana informasi yang diberikan tidak hanya dari satu sumber penyedia sebagaimana pada era sebelumnya Web 1.0, tetapi memasukkan unsur partisipasi oleh penerima informasi. Penerima informasi dapat memasukkan informasi baru bagi sumber penyedia sambil yang lainnya dapat mengubah, menambah, mengurangi informasi tersebut. Inilah era demokrasi digital dimana setiap individu web dapat saling berbagi informasi dan membentuk suatu komunitas yang lebih kuat.
Salah satu contoh yang tepat pada era partisipasi ini adalah Wikipedia. User dapat menambah, mengurangi, memperbaiki entry yang ada dalam ensiklopedi online ini. Sehingga perkembangan datanya berkembang dinamis. Bandingkan dengan Britannica Online yang data-data entry nya diatur oleh pengelola. Kelemahan dari sifat partisipasi ini, ada pihak-pihak yang memanfaatkan untuk kepentingan bisnis, memberikan informasi yang salah atau menjatuhkan suatu brand dalam entry tertentu.

Era ini juga ditandai dengan meningkatnya aktivitas blogging. Blog adalah personal web yang berisi tulisan-tulisan yang rutin disusun berdasarkan waktu dan kategori. Pengunjung dapat berpartisipasi dengan memberikan komentar untuk tiap tulisan sang blogger. Blog dapat berisi tulisan personal, artikel atau promosi barang/jasa. Untuk membuat blog gratisan dapat menyambangi Blogger dan banyak lagi yang lainnya. Atau mau yang lebih pro, dapat menggunakan fasilitas dari Wordpress.
Dalam era ini juga banyak melahirkan website-website komunitas. Website komunitas yang tidak asing di Indonesia adalah Friendster. Dari ABG, anak kuliahan, kantoran, hampir semua mengenalnya. Bertujuan untuk menjaring pertemanan antar sesama anggotanya, saling berkirim pesan dan komentar. Website sejenis ini yang populer di US adalah Myspace.

Kemampuan untuk berbagi dalam Web 2.0 memunculkan website yang menampung berbagai file seperti gambar, audio, video untuk saling di-share antar anggotanya. Flickr merupakan website untuk menampilkan dan men-share gambar atau foto dan saling memberikan komentar satu sama lain. Tiap tiap foto diberikan kata kata kunci yang relevan untuk memudahkan anggota lain mencarinya. Untuk saling share video dapat dilakukan pada web YouTube dan MetaCafe. Malah untuk video yang diunggah di Metacafe, bila telah dilihat sekitar 20.000 orang akan diganjar hadiah sebesar US$ 100, bila dilihat 2 juta penggemar akan diganjar US$ 10.000. Berminat?
Berbagi tidak hanya foto atau video. Informasi link web yang menarik dapat pula di-share pada komunitas. Hal ini yang dilakukan oleh Delicious, Digg, dan Magnolia. Kita dapat mem-bookmark halaman web atau sebuah posting untuk kemudian disimpan, dikategorikan, diberi kata kunci dan di-share. Contoh yang jelas untuk posting tulisan ini, pada bagian atas terdapat pilihan Bookmark, bila link itu dipilih maka otomatis akan masuk ke web delicious.
Eksponen Web 2.0 yang diuraikan di sini barulah sebagian saja. Bila ingin mengetahui lebih banyak tentang Web 2.0 dapat dilihat di AllThingsWeb2.0, yang tersusun dalam berbagai kategori. Dan berbanggalah, karena Anda, saya dan semua orang yang terlibat dalam era Web 2.0 ini dijadikan Person of the Year 2006 versi majalah Time minggu ini.
“You. Yes, you. You control the Information Age. Welcome to your world”
PERSONAL LUBRICANT

Seorang gadis berambut pirang dengan gaun merah sedang menatap matahari senja di pinggir dermaga tepi laut. Mungkin dia sedang merenung atau sedang menunggu sang kekasih yang sedang berlayar nun jauh di sana, atau sedang patah hati? Itu mungkin kesan pertama kali waktu sekilas melihat iklan ini. Bagaimana dengan anda?
Sampai kemudian mata ini melihat produk yang diiklankan di pojok kanan bawahnya. Manix gel, super-strength lubricant. Aahhh ternyata …!!?? Masih belum ngerti juga? Satu kalimat untuk mewakili iklan ini: “Gile, segede itu bisa masuk …??!!”
PAPERCUT ART

Dari selembar kertas A4 80 gram, lem, frame dan rasa artistik yang paten, terwujudlah karya seni ini. Karya yang berjudul The Core of Everything berupa potongan kertas berlubang berbentuk apel dan di bagian bawahnya terdapat bentuk 3 dimensinya berupa apel kertas yang telah habis dimakan. Atau seekor burung yang terbang menjatuhkan telurnya di bagian bawah frame sehingga telur itu pecah yang berjudul Broken Bird. Informasi sang seniman untuk karya ini tidak diperoleh. Karya seni dari media yang sederhana namun hasilnya artistik.
THE SPIRIT OF JAVA

Brand image baru kota Solo sebenarnya sudah mulai disosialisasikan sejak bulan Agustus kemarin. Awalnya diadakan kontes untuk memberikan slogan. Ada 3 slogan pemenang yaitu, Solo the Heart of Java, Solo the Heartbeat of Java dan Solo the Spirit of Java.
The Spirit of Java mencerminkan kedalaman makna akan akar budaya, seni dan sejarah kota Solo, sehingga kota ini berhak meng klaim kotanya sebagai “Jiwanya Jawa”. Elemen pada logo Solo ini terutama bagian huruf O yang berornamen itu diambil dari unsur bentuk dasar motif batik, yang menjadi perwakilan dari salah satu budaya lokal yang berkembang di kota ini. Pada akhirnya brand ini akan memperkuat positioningnya sebagai kota yang kuat unsur Seni & Budaya nya.
Branding kota dengan tujuan promosi untuk mengenalkan sebuah kota kepada masyarakat umum baik dalam atau luar negeri, cukup marak akhir akhir ini. Sebutlah kota Jogja dengan slogan Jogja Never Ending Asia nya atau Jakarta dengan Enjoy Jakarta. Mungkin banyak juga yang mengadaptasi dari pengaruh luar seperti Malaysia Truly Asia, Uniquely Singapore. Selain untuk promosi, hal ini berkaitan dengan identitas kota tersebut. Slogan dan logo tersebut hendaklah mencerminkan identitas, sejarah, budaya, gaya hidup kota itu.
Baru baru ini pemerintah kota Semarang melakukan hal yang sama dengan menyelenggaraan kontes penciptaan logo untuk kota Semarang dengan slogan “The Beauty of Asia”. Menuai protes di kalangan masyarakat Semarang karena kemunculan slogan yang tiba tiba ada, tanpa ada proses dan keterlibatan dari masyarakatnya. Intinya apakah kota ini sudah “beauty” dan siap bersaing dengan kota lainnya di Asia?
ARAH MATA ANGIN
“Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya … “ Ingat lagu anak anak tentang arah mata angin ini? Kalau saya lupa arah mata angin di suatu tempat, kadang mulut ini masih menggumamkan nyanyian ini. Nah, nyanyian ini akan terpakai kalau anda berkunjung ke daerah Solo, Jogja dan sekitarnya. Saya gak ngerti kenapa tiap kota punya perbedaan dalam hal cara menentukan arah. Kalau kita menanyakan arah pada penduduk lokal setempat, jawaban yang diberikan akan berbeda pula. Coba simak.
Jakarta
Saya: “Bang, numpang nanya, stasiun Gambir kalau dari sini lewat mana ya?”
Lokal: “Terus ajah.., ntar kalo ketemu perempatan, belok kanan ampe ketemu gedung warna ijo, nah tu die stasiunnya..”
Bandung
Saya: “Kang, punten bade naroskeun. Kalo arah ke Gedung Sate palih mana?”
Lokal: “Terus wae sep, belok kanan terus nepi ka perempatan, belok kiri, kapanggih lapangan Gasibu, ta eta di hareupan lapangan.”
Solo/Jogja
Saya: “Mas, nyuwun sewu, kalo arah ke Keraton lewat mana?”
Lokal: “Terus mawon mas, ke arah Timur. Pas ketemu perempatan, terus lagi ke arah Selatan. Nanti kalo masnya ketemu sama alun alun, lha keratonnya di sebelah Baratnya.”
Kecuali untuk beberapa kalangan anak muda, rata-rata penduduk lokal Solo/Jogja hampir semua mengerti arah mata angin. Dan paham di mana mereka berada. Lihat saja arah matahari, itu yang paling mudah untuk tahu arah mata angin. Tapi pernah waktu saya ngangkat meja di dalam rumah bareng Pakde saya, dia lebih suka memakai ke Utara, ke Selatan untuk menggerakkan meja ketimbang ke kanan, ke kiri, maju, mundur. *capek deh*
Mungkin letak geografis kotanya yang menyebabkan demikian. Jalan utama di kota Solo, yaitu jalan Slamet Riyadi, membentang dari Barat ke Timur. Hal ini yang memudahkan penduduk lokal untuk menunjukkan arah mata angin ketimbang kanan-kiri. Mereka melihat kotanya dari pandangan Bird View, sedang penduduk kota lainnya memandang dari pandangan normal. Jadi siap siap saja menggumamkan lagu ini, kalo anda berkesempatan berkunjung ke daerah ini. “Barat, Barat Laut, Utara, Timur Laut … “
LAT
Mohammad Nor Khalid atau Datuk Mohd Nor Khalid, kartunis terkenal asal negeri jiran Malaysia. Tapi bukan Datuk K yang suami Siti itu … Dikenal sebagai Lat, alias Mamat Nor Bulat, karena perawakannya yang gempal. Talenta menggambarnya sudah bersinar sejak masih usia muda. Bergabung dengan New Straits Times sebagai wartawan kriminal, kemudian berpindah menjadi kartunis. Buku pertamanya Kampung Boy yang merupakan otobiografinya ketika masa kanak kanak di kampung Malaysia. Dan terjual ribuan buku dalam 3 bulan. Kartunnya merefleksikan pandangannya tentang Malaysia dan dunia.


