Archive for the 'Spiritual' Category
MENGUBAH HATI
Seorang Maharaja yang bodoh mengeluhkan jalanan yang kasar sehingga membuat kakinya sakit. Ia kemudian memerintahkan agar jalanan di seluruh negeri dilapisi oleh kulit sapi agar dapat ia lalui secara nyaman.
Pegawai istana yang diberi perintah tersebut tertawa. “Yang Mulia, hal itu merupakan suatu gagasan yang gila, kenapa tidak Yang Mulia memotong dua alas dari kulit sapi untuk melindungi kaki Yang Mulia?”
Maka itulah yang dikerjakan sang Maharaja, demikian lahirlah gagasan tentang sepatu.
Seseorang yang mengalami penerangan budi memahami bahwa untuk membuat dunia menjadi tempat yang bahagia adalah dengan mengubah hati dan bukan dunia.
GARDU PENOLONG
Perkembangan agama-agama…
Di sebuah pantai yang terjal, terdapat sebuah gardu penolong bagi kapal-kapal yang mengalami kecelakaan karam di sana. Gardu itu hanya sebuah gubuk kecil, dan perahu yang mereka punyai pun hanya satu. Namun orang-orang di gardu penolong itu, tanpa pamrih melakukan tugas penyelamatan tanpa memandang resiko pada diri mereka sendiri. Gardu itu pun menjadi terkenal, karena penyelamatan yang sering mereka lakukan.
Ketika gardu itu semakin terkenal, banyak orang di sekitarnya mendaftarkan jadi anggota. Mereka meluangkan waktu dan uang mereka bagi kegiatan mulia itu. Gubuk pun diperbaiki menjadi sebuah rumah yang layak dan kapal baru pun dibeli. Karena tidak setiap hari terjadi kecelakaan kapal karam di tempat itu, maka tempat itu menjadi suatu tempat yang disenangi untuk berkumpul.
Dengan berjalannya waktu, para anggotanya begitu terlibat dengan kesenangan, hingga kurang berminat dalam kegiatan menolong. Meski mereka dengan bangga memakai semboyan penolong sebagai tanda pengenal mereka. Dan sebetulnya setiap kali ada orang yang diselamatkan dari laut, merupakan suatu hal yang merepotkan. Sebab korban yang sakit itu mengotori lantai berkarpet serta meja dan kursi.
Kegiatan komunitas kelompok itu menjadi begitu banyak dan tugas penyelamatan menjadi begitu sedikit. Dan muncul pertentangan dari beberapa anggota yang mendesak, bahwa mereka harus kembali kepada tujuan semula. Setelah diadakan pemungutan suara, para penentang itu akhirnya harus keluar dari kelompoknya.
Kemudian di daerah yang agak jauh dari pantai, para penentang tadi bekerja dengan giat melakukan tugas penyelamatan yang menjadi tujuan semula. Hingga kepahlawanan mereka menjadi terkenal, lalu keanggotaan bertambah besar, gubug mereka dibangun lebih besar, namun dengan cita-cita yang menurun.
Bila kita mengunjungi tempat itu, maka akan ditemui kelompok-kelompok khusus di sepanjang pantai. Dan masing-masing merasa bangga dengan asal mula dan tradisi mereka. Kapal karam masih sering terjadi di pantai itu, namun rupanya tidak ada orang yang terlalu memperhatikannya.
RUMUSAN

Seorang mistik baru kembali dari padang gurun, dan orang-orang mengerumuninya sambil mendesak sebuah pertanyaan kepadanya,”Katakan, seperti apakah Tuhan itu?”
Sang mistik itu tertegun, dan berpikir bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata, perasaan dan pengalaman yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Dan bagaimana mengungkapkan Yang Maha Agung dalam kata-kata manusiawi?
Kemudian orang mistik itu memberikan sebuah rumusan. Rumusan yang kurang tepat dan serampangan. Dengan maksud agar orang-orang itu mencari dan mengalami sendiri pengalaman dengan Yang Maha Agung.
Tapi yang terjadi adalah orang-orang itu berpegang kuat pada rumusan tersebut. Mereka menjadikannya naskah suci. Setiap orang yang mempunyai naskah suci itu menganggap dirinya ahli tentang Yang Maha Kuasa. Mereka menjadikan kepercayaan suci untuk disebarkan kepada orang lain, dan bersusah payah menyebarkannya ke negeri-negeri asing. Bahkan ada yang rela mati demi rumusan itu.
Sang mistik yang mengetahui hal itu menjadi sedih, akan lebih baik bila waktu itu ia diam dan tidak pernah bicara.
PANDANGAN MATANYA
Kepala tentara dan pasukannya telah lama menyisir di sebuah desa yang ditenggarai terdapat seorang penghianat bangsa. Ia mengatakan kepada kepala desa itu bahwa bila mereka tidak menyerahkan sang penghianat itu maka pasukan tentara akan menyiksa seluruh penduduk desa tersebut. Memang di desa itu mereka menyembunyikan seseorang yang kelihatannya baik, tidak bersalah dan disayang oleh seluruh penduduk desa.
Kemudian musyawarah dilakukan berhari-hari oleh pejabat pejabat desa untuk membahas permasalahan ini. Para pemuka agama juga ikut mendiskusikan permasalahan tersebut. Kepala desa dan pemuka agama itu kemudian mencari jawaban pada kitab suci mereka. Sampai akhirnya mereka menemukan suatu ayat: “Lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa”
Maka kepala desa menyerahkan orang yang tidak bersalah itu kepada kepala tentara. Orang itu pun juga tidak ingin membahayakan keselamatan desa. Akhirnya ia disiksa dengan kejam, teriakan kesakitan membahana di seluruh desa, dan akhirnya ia pun dibunuh.
Beberapa tahun kemudian datanglah seorang Nabi ke desa mereka dan ia menemui kepala desa. Dan mengatakan bahwa apa yang telah mereka lakukan terhadap orang itu, orang itu adalah utusan Tuhan untuk menjadi penyelamat negeri ini. Orang orang desa ini malah menyerahkannya untuk disiksa dan dibunuh.
Kepala desa mengatakan bahwa tidak ada jalan lain, dan bersama pemuka agama desa telah mencari pesan dalam kitab suci dan berbuat sesuai dengan pesan itu. Kata sang Nabi: “Itulah kesalahanmu, engkau mencari-cari dalam kitab suci, seharusnya engkau mencari jawaban dari matanya“
IKAN KECIL
Kata seekor ikan laut kepada ikan laut yang lainnya “Maaf anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Dimanakah saya menemukan laut, saya sudah mencarinya kemana mana saja tapi sia sia hasilnya”
“Laut” kata ikan yang lebih tua, “adalah tempat engkau berenang sekarang ini.”
“Ha..?Ini hanya air saja, yang kucari adalah laut” sangkal ikan muda itu. Lalu dengan perasaan kecewa ia pergi dan mencarinya ke tempat lain.
Seorang menghadap Gurunya dengan menggunakan jubah sanyasi (seorang Hindu yang telah meninggalkan urusan duniawi, untuk mencari Yang Ilahi saja) berkata, “Telah bertahun tahun aku mencari Tuhan. Aku telah meninggalkan rumah dan mencari di manapun Dia berada. Kata orang Ia ada di puncak puncak gunung, di tengah padang gurun, di keheningan biara, dan di dalam gubuk kaum miskin”
“Apakah engkau telah menemukannya?” tanya sang Guru.
“Aku berdusta bila kukatakan Ya. Aku belum menemukanNya. Bapak sudah?”
Apa yang dikatakan Guru kepadanya? Sinar matahari senja memasuki ruangan tempat mereka berada lewat celah celah kamar, sayup sayup terdengar suara ratusan burung burung yang terbang bersama dari sebuah pohon beringin, angin berhembus perlahan, seekor nyamuk berdenging di dekat telinga mereka…Namun orang itu tetap duduk terpekur dan berkata ia belum menemukan Tuhan dan masih mencariNya.
Sesudah menunggu sejenak, lalu dengan perasaan kecewa ia pergi dan mencariNya ke tempat lain.
Ikan kecil, berhentilah mencari! Tidak ada yang perlu dicari. Heninglah sebentar, bukalah matamu dan lihatlah, engkau tidak akan mungkin keliru.
CINTA ITU MELUPAKAN
Mengapa engkau selalu mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu?” tanya sang suami. “Kupikir engkau sudah melupakannya?”
“Memang, aku sudah mengampuni dan melupakannya” kata sang istri.
“Tetapi aku ingin meyakinkan dirimu agar engkau tidak lupa bahwa aku telah mengampuni dan melupakannya.”
Sebuah wawancara:
Manusia:
“Jangan ingat lagi akan dosa dosaku, ya Tuhan!”
Tuhan:
“Dosa? Dosa apa? Engkau harus menyegarkan ingatanku. Aku sudah melupakannya berabad-abad yang lalu”
Cinta itu tidak mengingat ingat kesalahan.
PERBEDAAN MAKNA
Anthony de Mello, salah seorang guru yang banyak menceritakan kisah-kisah yang dapat mengubah hati. Kisah-kisah ini digali dari kebijaksanaan dari berbagai pandangan agama maupun budaya. Tujuannya adalah bagaimana suatu cerita yang mungkin sudah biasa kita dengar, dapat mengubah diri kita, dan menjadikan kita yang berbeda dari sebelumnya. Posting kisah-kisah ini diambil dari bukunya Burung Berkicau dan Doa Sang Katak, yang akan banyak ditampilkan dalam Category Spritual. Inilah kisah pertama.
Uwais, seorang Sufi, pernah ditanya: “Apakah makna rahmat bagi Anda?” Jawabnya: “Setiap kali aku bangun pagi, aku merasa cemas, apakah aku masih akan hidup petang nanti” Kata si Penanya:“Tetapi bukankah semua orang tahu akan hal itu?” Jawab Uwais:“Mereka memang tahu, tapi tidak semua merasakannya”
Tidak pernah orang menjadi mabuk karena mengetahui arti perkataan ‘anggur’


