andreasrio DESIGNandreasrio DESIGN

 
   back home contact me | blog
  cogito ergo sum aboutprojectresumeskillcontact
My Thought
home > blog

Archive for the 'Journey' Category

PASAR GEDHE

July 27th, 2007 | Category: Journey | Bookmarks

Pasar Gedhe

Agak aneh ya jalan-jalan di sebuah pasar? Bosan jalan-jalan di mal? Coba cari alternatif lain, iseng-iseng masuk ke pasar tradisional. Banyak hal yang bisa ditemui di sini, keramahan lokal setempat, budaya, bahasa, dan proses tawar menawar barang  yang menjadi esensi sebuah transaksi terlihat kental di sini.

Pasar Gedhe merupakan pasar tradisional terbesar di Solo. Dahulu kala, pasar ini merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang bernama Balai Kota Surakarta. Bangunan ini di desain oleh arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten yang selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhe Hardjanagara. Diberi nama Pasar Gedhe karena terdiri dari atap yang besar.

Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Masing masing terdiri dari dua lantai. Bangunan kedua dari Pasar Gedhe, digunakan sebagai pasar buah. Arsitektur Pasar Gedhe merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya tradisional Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gedhe mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949, dan mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu.

Di dalam pasar, terdapat los-los penjual yang dibagi dalam blok-blok. Yang menarik di sini adalah keberadaan los penjual daging dan ikan. Karsten tampaknya memperhitungkan keberadaan lalat di bagian daging dalam suatu pasar. Dan ia melihat ternyata lalat maksimum terbang setinggi 3 meter, sehingga keberadaan los daging yang berada di lantai 2 terhindar dari kerumunan lalat.

Pasar Gedhe



PURA PAMACEKAN

May 28th, 2007 | Category: Journey | Bookmarks

Pura Pamacekan 

Lagi-lagi ini bukan di Bali saudara-saudara … Pura bernuansa merah dan kuning ini terletak di Kabupaten Karanganyar Solo, tepatnya di Kecamatan Karangpandan. Daerah Karanganyar ini kental dengan pengaruh Hindu Bali, dilihat dari banyaknya Pura dan Candi Hindu. Pura Pamacekan ini salah satunya.

Ki Ageng Pasek (Pamacekan) adalah leluhur Bali yang dimakamkan di desa Pasekan, Karangpandan. Selain berziarah di sana, dapat pula disaksikan acara-acara ritual agama Hindu. Letak pura yang berada di kaki Gunung Lawu ini juga menyuguhkan panorama alam sekitarnya yang mempesona.

Pura Pamacekan



TIRTO PENGGING

May 08th, 2007 | Category: Journey | Bookmarks

Tirto Pengging 

Bagaimana rasanya raja-raja jaman dulu mempunyai kolam renang sendiri dan berenang bersama kerabat dan keluarganya? Jangan dibayangkan dengan kolam renang modern yang memakai keramik atau marmer pada bagian dasarnya. Kolam renang jaman dulu ini berupa kumpulan mata air yang dilokasikan menjadi suatu pemandian, sehingga dasar kolamnya berupa kumpulan batu-batu alam.

Tirto Pengging ini terletak di Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Banyudono. Daerah Boyolali terkenal dengan banyaknya mata air atau umbul, sebutan masyarakat sekitar. Umbul ini pada jaman dahulu hanya dipergunakan oleh Raja-Raja dan keluarganya dari Kraton Kasunanan. Pemandian ini dibangun pada jaman Pakubuwono X. Air umbul ini jernih dan sejuk, dan sumber mata air ini mengalir terus dan tidak kering walau musim kemarau.

Tirto Pengging




SPOOR TEBOE

April 20th, 2007 | Category: Journey | Bookmarks

Spoor Teboe 

Kereta api yang digerakkan dengan tenaga uap ini berada dalam lingkungan agrowisata Sondokoro, tepatnya di dalam kompleks Pabrik Gula Tasikmadu PTPN IX, Karanganyar. Kereta tua pengangkut tebu ini sudah beroperasi sejak awal abad 20, sekitar tahun 1920an dan masih terjaga staminanya di abad 21 ini. Hanya sekarang sudah tidak digunakan sebagai pengangkut tebu lagi tapi dialihfungsikan sebagai kereta wisata.

Dengan membayar karcis sebesar 5000 rupiah, penumpang diajak berkeliling kompleks pabrik gula yang notabene merupakan bangunan-bangunan kuno jaman Belanda. Sambil sekali-kali terdengar nyaring suara peluit khas kereta uap, yang terkadang menyemburkan air sehingga beberapa penumpang bagian depan ikut terciprat air. Suatu pengalaman yang unik, dan cocok untuk para penggemar kereta api tua.

Spoor Teboe



CASTLE IN THE SKY

March 05th, 2007 | Category: Journey | Bookmarks

 Candi Cetho

Bukan saudara-saudara … ini bukan di Bali. Candi ini letaknya di Kabupaten Karanganyar, sekitar 39 km arah Timur kota Solo. Candi Hindu ini bernama Candi Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti jelas atau terang. Terletak di ketinggian 1500 m dari permukaan laut, dan berada di lereng Gunung Lawu. Jalan menuju candi ini penuh tikungan dan tanjakan tajam. Namun mata kita dimanjakan dengan keindahan alam yang asri, kesegaran udara dan dengan bentangan perkebunan teh Kemuning sejauh mata memandang panorama di sekitarnya. Dan ketika kita memandang panorama di bawah dari sisi dalam candi, terasa seolah candi itu berada di atas awan.

Candi yang megah ini diperkirakan dibangun sekitar abad 15 atas perintah dari Maharaja Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Dengan didampingi abdi setianya Sabda Palon dan Naya Genggong, sang raja berkelana meninggalkan singgasananya di Jawa Timur dan memilih untuk menyepi di Gunung Lawu. Dan akhirnya moksa (menghilang) di puncak Lawu.

Struktur candi bertingkat sebanyak 9 tingkatan. Tingkatan-tingkatan ini menggambarkan kehidupan manusia dengan keterikatan akan materi, nafsu dan kuasa, semakin tinggi tingkatan ini semakin tinggi pula kesucian tempat itu. Dan di tingkat yang terakhir ini manusia melepaskan segala keterikatan duniawi itu untuk bersatu dengan Sang Penguasa Semesta Alam.

Candi Cetho



MUSEUM BATIK KUNO

January 06th, 2007 | Category: Journey | Bookmarks

Museum Batik Kuno

Tinggal cukup lama di Solo bukan berarti tahu semuanya tentang kota ini. Buktinya baru beberapa minggu lalu saya menemukan suatu tempat yang unik. Museum Batik Kuno. Itupun dalam rangka menemani seorang rekan yang akan membuat profil museum. Padahal letaknya strategis di Jalan Slamet Riyadi, jalan utama yang pasti dilewati semua orang. Dan ada petunjuk segede gaban di pinggir jalan, terlalu…

Museum Batik ini dikelola oleh pihak swasta, persembahan salah satu produsen batik terkenal, Danar Hadi. Untuk masuk ke dalam museum, dapat melalui toko batiknya, setelah membayar tiket sebesar 15 ribu rupiah, kita akan diantar oleh guide untuk masuk ke dalam museum. Memasuki ruangan museum yang sejuk akan disambut wewangian yang khas dari campuran kembang dan rempah rempah pewangi. Khas wewangian keraton. Di sekeliling ruangan tertata rapi koleksi koleksi batik yang dikelompokkan berdasarkan pengaruh zaman, lokasi dan budaya pada waktu tertentu.

Koleksi Batik Belanda dipengaruhi oleh budaya kolonial sekitar tahun 1800 an, polanya berupa bunga, burung, dan ada yang dipengaruhi cerita cerita seperti puteri salju, topi merah. Dari pengaruh Cina, lahirlah Batik Cina yang khas dengan warna krem, merah, merah muda. Pada tahun 1942-1945 menelurkan Batik Djawa Hokokai, yang dipengaruhi ornamen kimono Jepang. Budaya India juga memberi pengaruh pada koleksi Batik India. Museum ini mempunyai koleksi dari Keraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang masing-masing memiliki ciri khas khusus. Di samping koleksi Batik Danar Hadi sendiri, juga terdapat koleksi batik Nusantara, seperti Batik Pekalongan, Batik Lampung, Batik Palembang, Batik Madura, Batik Cirebon, Batik Banyumas, Batik Tulungagung, Batik Wonogiri. Batik Nasional yang dipengaruhi berbagai unsur budaya Nusantara melahirkan Batik Indonesia.

Di bagian lain dari museum terdapat tampilan untuk bahan bahan pembuat batik, yang disajikan dalam toples toples kaca. Agak ke belakang dari museum, kita dapat melihat proses pembuatan batik, baik batik tulis maupun batik cap yang dikerjakan secara tradisional. Terdapat pula proses pengeringan, pembuatan pola baju dan sampai menjadi busana siap pakai.

Museum Batik Kuno ini merupakan museum dengan koleksi batik terlengkap di Indonesia. Dengan dikelola secara profesional, diharapkan dapat ikut melestarikan budaya lokal setempat dan menjadi aset berharga kota Solo yang salah satu unsur budayanya adalah seni batik.

Museum Batik Kuno




UMBUL NGANTEN

October 15th, 2006 | Category: Journey | Bookmarks

umbul nganten

Terletak di daerah Delanggu sebelah Barat kota Solo, Umbul Nganten merupakan sumber mata air yang mempunyai lingkungan yang menarik. Paduan antara mata air, bebatuan, tanaman, sawah. “Cocok untuk pre wedding” kata temenku Dyah & Tofiq yang mau merit. Jadilah aku fotografer dadakan, dan konyolnya sampai di tempat sekitar jam 2 siang. Foto siang-siang, terlalu!! Berbekal pengetahuan teknis yang minim, jadilah foto foto ini. Kebetulan nama umbul itu Nganten atawa Penganten, yang konon orang yang berkunjung ke sana sebentar lagi akan menikah. Trus fotografernya kapan meritnya? He he he








  Copyright © 2006 Andreas Rio. All Rights Reserved