andreasrio DESIGNandreasrio DESIGN

 
   back home contact me | blog
  cogito ergo sum aboutprojectresumeskillcontact
My Thought
home > blog

Archive for the 'Philosophy' Category

KETENANGAN

July 14th, 2007 | Category: Philosophy | Bookmarks

KetenanganDalam sebuah kelompok atau organisasi, kadang kita ditempatkan dalam posisi seorang pemimpin. Tidak hanya dalam organisasi formal seperti perusahaan, sebuah kelompok tim yang kecil, komunitas, keluarga, masyarakat juga membutuhkan seorang pemimpin.

Terkadang seorang pemimpin tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kelompoknya. Akibatnya banyak pemimpin yang membawa organisasinya ke lembah kehancuran.

Janganlah menatap tajam untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Rileks dan pandanglah dengan halus menggunakan mata batin kita. Persoalan yang rumit sekalipun akan terbuka. Bila kita tidak memahami apa yang dikatakan seseorang, janganlah memahami setiap kata-katanya. Diamlah dan dengarlah dengan batin yang terdalam.

Ketika kita dibingungkan dengan apa yang kita lihat atau dengar, janganlah terburu buru untuk memahaminya. Mundurlah sebentar dan tenanglah. Ketika seseorang dalam keadaan tenang, kejadian dan masalah yang komplek akan terlihat lebih jelas.

Melihatlah tanpa menatap. Dengarkanlah dengan ketenangan daripada dengan ketajaman. Gunakan intuisi untuk memahami sesuatu. Semakin kita bersifat terbuka dan menerima, semakin mudah mengetahui apa yang sedang terjadi.




OJO RUMONGSO BISO, NANGING BISO RUMONGSO

April 02nd, 2007 | Category: Philosophy | Bookmarks

WayangKetika kita memperoleh suatu pengetahuan, ilmu, atau pengalaman terkadang muncul sifat sombong dari diri kita. Bahwa kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan ilmu atau pengalaman yang kita peroleh. Padahal banyak faktor yang menentukan penyelesaian suatu masalah dan bukan hanya dari sudut pandang yang kita pahami. Di sini orang lantas merasa bisa, sifat ego manusia yang muncul tanpa menghiraukan pendapat orang lain.

Dalam filosofi Jawa, sifat ini yang dinamakan Rumongso Biso (merasa bisa). Ajaran masyarakat Jawa menekankan untuk dapat melakukan koreksi ke dalam, sehingga tidak terdorong untuk menghujat atau merendahkan orang lain. Cobalah untuk memahami pendapat yang lain, walau hal itu mungkin sangat bertentangan dengan yang kita yakini. Dengan Biso Rumongso (bisa merasa) atau melatih empati kita untuk memahami orang lain akan mendorong untuk berkompromi mencapai suatu keseimbangan. Hal ini akan membuat semua perselisihan atau konflik yang ada di dunia ini dapat teratasi. Janganlah menjadi orang yang merasa bisa, melainkan yang bisa merasa.



MIGUNANI TUMRAPING LIYAN

January 14th, 2007 | Category: Philosophy | Bookmarks

 Migunani Tumraping Liyan

“Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat bisa bermakna besar bagi orang lain. Berguna bagi sesama membuat hidup lebih berarti”. Itulah tulisan yang terdapat di iklan poster koran Kedaulatan Rakyat. Koran lokal Jogja ini mengambil filosofi Jawa yang maknanya mendalam. Berguna bagi sesama, itulah kurang lebih artinya.

Terkadang kita merasa belum siap untuk berbuat baik, karena kita berpikiran bahwa kita belum mampu secara materi atau merasa perbuatan kita itu tidak berdampak banyak bagi orang yang membutuhkan. Atau ketika kita sudah terjerumus dalam ego kita, yang mempertimbangkan untung rugi setiap perbuatan, melupakan kenyataan bahwa semua ciptaan dunia ini merupakan suatu kesatuan, sehingga kesetiaan kita berpindah ke kelompok yang lebih kecil, seperti komunitas lingkungan, keluarga, gender, ras. Di luar itu kita tidak peduli.

Memberi dari kekurangan kita, lebih bermakna daripada memberi dari kelebihan kita. Tengoklah kejadian dalam poster di atas. Seorang difabel dengan segala kekurangannya dapat berbuat banyak bagi anak-anak yang sedang bermain bola itu, lewat alat yang selama ini membantu hidupnya. Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat bisa bermakna besar bagi orang lain.



MESTAKUNG

November 21st, 2006 | Category: Philosophy | Bookmarks

universePernah merasa dalam keadaan yang kritis? Misalnya sedang mengerjakan suatu pekerjaan, kemudian buntu tidak menemukan langkah selanjutnya. Kemudian tiba tiba kebuntuan itu terpecahkan. Atau sedang ditimpa masalah, kemudian pasrah, tapi tetap yakin ada solusinya, kemudian tiba tiba masalah itu selesai. Pernah ketika saya sedang ngutak ngatik script animasi, tapi error terus, pasrah tapi masih coba sana sini, tiba tiba program script nya jalan. Ada lagi pas cari ide desain, gak ketemu setelah berhari hari, tiba tiba pada suatu waktu muncul ide yang bagus.

Dalam Tao, ini disebut sebagai Paradoks Membiarkan Lepas. Ketika kita melepas apa yang kita miliki, kita akan menerima apa yang kita butuhkan. Dikenal sebagai paradoks feminim atau Yin. Terus Mestakung itu apa? Ini bukan aliran baru kungfu atau semacamnya, mentang-mentang ada unsur kung nya, he he. Mestakung itu ternyata singkatan bahasa Indonesia yaitu seMesta menduKung. Dipopulerkan oleh Yohanes Surya, fisikawan Indonesia itu. Dengan konsepnya itu beliau mengantarkan siswa siswa Indonesia meraih medali di Olimpiade Fisika. Hal ini dapat dijelaskan dalam hukum Fisika yaitu ketika sesuatu berada dalam keadaan tidak stabil, maka partikel partikel di sekitarnya akan bekerja sama untuk membentuk suatu keadaan yang stabil. Kalau di ilmu Ekonomi mirip mirip aliran klasik Adam Smith, bahwa dalam perekonomian yang bergejolak, pada akhirnya lewat “the invisible hands” akan menuju kepada suatu equilibrium, suatu keseimbangan, suatu kestabilan.

Sebenarnya hal seperti ini sudah lama terdapat pada novel The Alchemist, karya Paulo Coelho. “Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya akan bersatu padu membantumu untuk meraihnya.”

“Once you make a decision, the universe conspires to make it happen …”




CARPE DIEM

November 14th, 2006 | Category: Philosophy | Bookmarks

carpe diemTerkadang dalam kehidupan ini, kita mudah larut dengan kenangan kenangan masa lalu, atau terbuai dengan fantasi fantasi masa depan, sampai akhirnya kita lupa bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah saat ini. Hal inilah yang membuat kita menjadi tidak sadar dan tidak mensyukuri tiap saat dan tiap detik dalam hidup kita.

Carpe Diem adalah ungkapan Latin yang berarti “Hiduplah pada saat ini”. Selengkapnya ungkapan ini: “dum loquimur, fugerit inuida aetas: carpe diem, quam minimum credula postero” terjemahannya: “ketika kita sedang bicara, waktu yang iri itu sedang berlari pula: tangkaplah hari ini, dan sedikit mungkin mempercayai hari esok”.

Hari esok mempunyai masalahnya sendiri, janganlah terlalu risau akan masa depan. Orang yang tidak dikuasai oleh masa depan bagaikan kawanan burung di angkasa dan rumpun bunga di padang. Ia tidak kuatir akan hari esok. Segalanya adalah hari ini.




ELING SANGKAN PARANING DUMADHI

October 16th, 2006 | Category: Philosophy | Bookmarks

wayangTinggal di Jawa, terutama di Solo paling tidak kita berusaha untuk mengerti budaya dan kearifan lokal yang ada. Hal ini sebagai proses penempatan diri dalam komunitas yang ada. Salah satunya yaitu tentang filosofi orang Jawa. Ada banyak filosofi yang digali dalam budaya Jawa. Salah satunya adalah ungkapan Eling Sangkan Paraning Dumadhi.

Dalam pergaulan masyarakat Jawa terutama kalangan generasi tua, ungkapan yang arif ini sangat terkenal. Secara bebas diartikan sebagai ingat akan asal dan tujuan hidup. Ungkapan ini mengandung nasihat agar seseorang selalu waspada dan eling (ingat, sadar) terhadap sangkan (asal) manusia dan paran (tujuan akhir).

Dengan sadar dan waspada dalam perjalanan hidupnya, ia akan mampu meredam emosi, nafsu, ikatan ikatan duniawi dan berupaya untuk bertindak lebih baik, karena ia memiliki tujuan akhir yang jelas, yaitu sowan ngarsaning Gusti (menghadap ke hadirat Tuhan)

Ungkapan Eling Sangkan Paraning Dumadhi dijadikan sebagai pengendali sewaktu seseorang melakukan perbuatan negatif. Selain itu dapat juga dimanfaatkan untuk meluruskan dan membesarkan hati ketika terkena beban hidup, sakit, kekecewaan, patah hati, ketidakbahagiaan. Upaya pelurusan ini untuk penyadaran akan sangkan (asal) dan paran (tujuan) hidupnya.








  Copyright © 2006 Andreas Rio. All Rights Reserved